Kisah Tentang Istri Polisi yang Dipukuli di Padepokan Silat

Hasil gambar untuk padepokan silat

Pertarungan antara dua kelompok Pencak Silat di Wonogiri, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, masih menyisakan cerita.

Keributan itu menyebabkan petugas polisi Aditia Mulya menjadi korban pemukulan.

Pada saat itu, Aditia, yang masih menjadi kepala departemen investigasi kriminal Wonogiri, menjadi korban karena ia berusaha memisahkan pertarungan.

Empat bulan setelah kecelakaan itu, kondisi Aditia berangsur membaik. Dewi Setyowati (39) mengungkapkan kondisi suaminya.

“Alhamdulillah telah membaik, lebih stabil, telah sering merespons,” katanya dalam pernyataannya, Kamis (26/9/199).

Setelah peristiwa pemukulan, Aditia menderita cedera pada tengkorak. Aditia dirawat di Rumah Sakit Umum Singapura.

Setelah berobat ke luar negeri, kata Dewi, suaminya bisa bereaksi terhadap keadaan di daerah tersebut.

“Reaksinya lebih baik di sini, karena mungkin ada anak-anak, suara anak itu tidak terdengar, bahkan ibu Mas Adit ada di sini,” katanya.

Dewi bertobat dari peristiwa yang dialami suaminya. Ini karena Aditia tidak bisa lagi berfungsi sebagai polisi.

Lebih lanjut, ketiga anak dari pasangan ini kehilangan waktu untuk bermain.

“Anak-anak suka bertanya kapan Papi mulai pulih, mereka ingin berenang lagi, bermain dengan Ayah,” katanya.

Seiring waktu, ia menambahkan, anak-anaknya dapat menerima kondisi ayahnya.

Sebelumnya, AKP Aditya Mulya telah menjadi korban pemukulan terhadap kerumunan ketika dia mengamankan pertarungan antara Silat College di Wonogiri pada 8 Mei 2019.

Pada 16 Mei 2019, AKP Aditya Mulya dikirim ke Singapore General Hospital untuk perawatan intensif lebih lanjut.

Sebagai bentuk penghargaan atas layanan korban, kepala polisi nasional Tito Karnavian mengeluarkan perintah polisi nasional untuk Aditya Mulya, menghormati anggota polisi nasional dalam bentuk promosi.

Surat itu dikutip dalam Kep / 918 N / 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *